Sabtu, 04 September 2010

Papuaku Menangis Mengalir Darah

Sungai darah trus mengalir kala surya ditutup awan hitam
Di Ibu pertiwi Papua petir kilat saling terpadu hujan keadilan bertetes darah menghakimi bumi mendakwa Cakarawala kini ego larut dalam kerakusan kala
Manusia haus harta manusia bias jadi binatang kemanusiaan bias jadi korban
Mutiara hitam dibalut luka tangis anak manusia menuntut keadilan
Keadilan untuk kemerdekaan
Kemerdekaan yang memerdekakan kini pergilah kau kembalilah ke tanahmu kembalilah ke negerimu sudah cukup banyak korban sudah cukup banyak air mata sudah cukup banyak kau keruk alam kami
Cukup sudah penderitaan kami
Wahai Saudaraku angkatlah tombak dan panah mari kita berperang sampei tetes darah pengabisan biarlah peluru dan bom bersarang tubuh, kematian kita melahirkan kemerdekaan
Petir kilat mendakwa cakarawala menuntut keadilan dengan tombak dan panah kalau itu jalan menuju pintu kebebasan

An Isseph Gwijangge



0 komentar (+add yours?)

Posting Komentar