Sabtu, 29 Januari 2011
Mata Air hanya Belaka
Aku hanya seorang biasa yang memikirkan tugas dan tanggung jawab yang harus ku selesaikan, untuk merai apa yang ku inginkan. tapi apa yang ku impikan itu satu yang merusak impianku. Karena dirimu yang bisa menangis siang dan malam beserta berpuasa beberapa sesaat saja, seolah-olah pagang api yang membakar dirimu tetapi itu sekedar omong kosong yang dirmu buat mengiburku sebentar saja. Lalu dirimu melupakan kisa cinta kita, namun kota cecil jadi saksi bisu. KuKu tinggalkan dirimu bukan dikau pergi bersamanya. Tapi untuk sementara waktu kembali lagi untukmu. Dirku tinggalmu karena mengejar impianku dan kebali tapi semua ini terjadi.Dirimu jahat bawah lari cintaku yang tulus dan cuci padamu.Tiada ku duga ini terjadu padaku, ku tak akan terukir diparasasti kisa ini bersamamu, namun lemba yang dingin, lembah wamenaakan terukir kisa prasasti dan jadi bisu di sana karena kisa ini tidak ada pemiliknyayang bisa merawat. Jika oarang-orang tanya padaku siapa pemiliknya? ku akan jawab dengan kasr, pemiliknyapengianat msks diruakan tertewa bebaha-bahak sebab dikau bahagia bersamanyadan ku yang derita. Dan ku akan jatukan air mata yang akan mengalir, membasai kisa yang dingianati itu.
An Gwijana
Kamis, 20 Januari 2011
Nduga Utamakan nama orang yang kita kenal
Jika kami merasa pemilik nduga sebagai pribumi (tuan tanah nduga) berarti apa yang kita sebut sesuai dengan kebiasaan kami turun-temurun dari nenekmoyang kita yang tidak bisa diganti dengan pengaruh global atau modern. Maka kami minta pada siapa saja yang jadi peminpin ndugama kabulkan permintahan kami hak pewaris nduga meminta jln utama di nduga harus beri Nama -nama Jalan atau tempat umum seperti Jederal Kelly Kwalik, Silas kogoya, Ibrahim Uburuangge, dan sebagainya adalah pahlawan yang harus dihormati sebagai pemilik tanah daratan amongtau jadi kami minta jangan pake nama-nama yang kita tidak kenal dan tidak punya jasa bagi kami.
Permintahan ini datang dari pewaris ndugama yang turun temurun dari nenekmoyang kita yang sudah mendauluhi kami dan tidak bisa gugat gagut oleh siapapun atau minoritas yang sementara datang numpang di tanah kami. Suara kami adalah pribumi atau tuan tanah ndugama.
Langganan:
Postingan (Atom)
Twitter
Facebook
Flickr
RSS